Skip to content
Sosio-Ekonomi

Mata Pencaharian & Perikanan Berkelanjutan

Udang, kepiting bakau, dan ikan dari mangrove adalah sumber uang tunai utama rumah tangga pesisir. Kerja kami membantu nelayan mendapat lebih banyak dari setiap kilogram sambil menjaga stok tetap sehat.

2.764 t

produksi perikanan tangkap (2016), didominasi udang

57%

nelayan melaporkan tangkapan menurun (survei 2017)

Rp 75.000

harga udang tertinggi per kg di pendaratan (2017)

312

rumah tangga dalam program mitra (contoh)

Ekonomi yang bertumpu pada mangrove

Survei data dasar tahun 2017 menemukan bahwa sebagian besar rumah tangga pesisir bergantung pada udang, kepiting bakau, dan ikan sebagai penghasilan utama. Kebanyakan nelayan memakai perahu tanpa mesin atau bermesin tempel, dengan jaring insang dan rawai dasar sebagai alat tangkap paling umum.

Meskipun produksi total naik, 57% nelayan menyatakan hasil tangkapan mereka sendiri menurun — karena jumlah nelayan bertambah, lokasi tangkap makin jauh, dan aktivitas industri di sekitar teluk meningkat. Karena itu, program mata pencaharian harus menaikkan pendapatan per tangkapan, bukan jumlah tangkapan.

Portofolio mata pencaharian rumah tangga

Kebanyakan keluarga menggabungkan beberapa kegiatan ini sepanjang tahun.

Menangkap udang

Udang jerbung dan udang dogol ditangkap dengan jaring insang di teluk; dijual segar ke pengepul dan gudang pendingin di Bintuni.

Pendapatan tunai utama

Menangkap kepiting bakau

Bubu dan pengait dipasang di sela akar saat surut; kepiting hidup dihargai paling tinggi.

Bernilai tinggi

Memancing kakap

Rawai dasar di sepanjang alur dan muara, sebagian besar untuk pasar lokal.

Sagu dan kebun

Sagu dari rawa belakang dan kebun kecil umbi, pisang, serta sayur menjamin ketahanan pangan.

Ketahanan pangan

Pengolahan & kerajinan

Koperasi perempuan membuat gula nipah, tepung lindur, dan noken untuk dijual di kota.

Kerja upahan & jasa

Kerja musiman, jasa angkut perahu, pemanduan wisata, dan pekerjaan terkait sektor gas dan konstruksi.

Model program

  1. 1

    Titik pengumpulan kepiting kampung

    Koperasi membeli kepiting langsung dari nelayan, menyortirnya menurut ukuran dan jenis kelamin, melepas kepiting kecil dan betina bertelur, lalu menjual kelompok tersortir ke pembeli di Bintuni dan Sorong. Nelayan mendapat harga lebih baik dan stok terlindungi.

  2. 2

    Koperasi “Mama-Mama Mangrove”

    Lima kelompok yang dipimpin perempuan mengolah HHBK, mengelola pembukuan bersama, dan menjalankan arisan simpan-pinjam agar anggota bisa membeli jaring dan peralatan tanpa kredit berbunga tinggi.

  3. 3

    Restorasi berbasis upah masyarakat

    Persemaian kampung menumbuhkan bibit Rhizophora dan Bruguiera; keluarga dibayar per bibit yang hidup setelah 12 bulan, bukan per bibit yang ditanam.

  4. 4

    Buku catatan nelayan & pengembalian data

    Nelayan mencatat hasil tangkapan dan upaya; setiap triwulan hasilnya dipaparkan kembali di kampung agar masyarakat dapat menetapkan sendiri penutupan dan batasan.

Kalender musim

Pola indikatif hasil lokakarya masyarakat (data contoh).

PeriodeCuacaKegiatan utama
Des – MarMusim barat, hujan lebat, teluk luar berombakMenangkap di dekat tepi hutan; memasang bubu kepiting; mengolah sagu
Apr – MeiPancaroba, laut lebih tenangPuncak jaring udang; menyadap nipah
Jun – SepAngin pasat tenggara, lebih keringMemancing rawai; membuka kebun; mengumpulkan bibit untuk persemaian
Okt – NovPancarobaUdang dan kepiting; mangrove berbuah — produksi tepung lindur; musim pengamatan burung

Indikator program

Kampung mitra, baseline 2023 vs. 2026 (data contoh).

IndikatorBaseline 20232026Perubahan
Rata-rata harga kepiting diterima (Rp/kg)62.00096.000+55%
Kepiting di bawah ukuran dalam tangkapan38%12%−26 poin
Rumah tangga anggota kelompok simpan-pinjam41186+145
Bibit yang hidup setelah 12 bulan54%78%+24 poin
Perempuan di posisi pengurus koperasi923+14